Langkah yang digunakan penulis dalam teknik analisis ini adalah (1) mengklasifikasi data dari puisi Yang Fana adalah Waktu, (2) melakukan identifikasi terhadap data-data yang diperoleh dari puisi Yang Fana adalah Waktu, (3) pemberian makna pada puisi yang dibaca, (4) mendeskripsikan data penelitian berdasarkan apa yang diperoleh dari puisi.
Puisi "Yang Fana adalah Waktu" menyadarkan kita oleh makna-makna tersirat di dalamnya. Bahwasanya tak ada yang abadi di dunia ini kecuali waktu. Karena kita sebagai makhluk tuhan akan kembali ke asalnya. Berdasarkan pendekatan stilistika didapat bahwa puisi tersebut mengandung gaya bahasa kiasan yang diantaranya simile dan metafora.
Mengulik Makna Simbolik Lagu "Nanti Kita Seperti Ini" Karya Batas Senja Melalui Kacamata Semiotika Saussure; Anggur dan Cinta yang Fana dalam Sajak-Sajak Chairil Anwar dan Umar Khayyam; Dalam konteks puisi, tanda adalah kata-kata dan simbol yang digunakan oleh penyair. Dalam sajak "Putih," tanda-tanda mencakup kata-kata yang digunakan oleh
Puisi "Yang Fana Adalah Waktu" di atas mengambil waktu sebagai tema utamanya. "Waktu" adalah suatu hal yang abadi, sedangkan manusia merupakan makhluk yang tidak abadi. Hal tersebut diungkapkan secara terbalik oleh Sapardi untuk menyindir para manusia yang bertingkah melewati kodratnya.
Makna Puisi "Yang Fana adalah Waktu" menyiratkan beberapa pesan. Sapardi mecoba mengingatkan sesama, betapa pentingnya waktu yang dimiliki di dunia. Apalagi dalam momen pergantian tahun ini,
xlW55y.
makna puisi yang fana adalah waktu